Suara Muda Menggema di COP30 PBB Bersama 51Talk

2026年4月2日

Dari Asia hingga Timur Tengah, para siswa 51Talk tampil percaya diri di COP30 PBB—membawa gagasan segar soal iklim dan membuktikan bahwa suara anak muda mampu menggerakkan dunia.

Pada tahun 2025, para pelajar muda dari Vietnam, Thailand, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Türkiye melangkah ke panggung dunia di Konferensi Iklim PBB COP30. Mewakili negara masing-masing dengan penuh percaya diri dan tekad, mereka membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk memberikan dampak nyata.

Di usianya yang baru 11 tahun, Lê Bảo Nhi dari Vietnam berhasil mengubah rasa takutnya berbicara dalam bahasa Inggris menjadi kepercayaan diri hanya dalam dua bulan berlatih dengan sungguh-sungguh. Setelah memenangkan kompetisi GreenTalk, ia terbang ke Brasil untuk menyampaikan bagaimana polusi plastik di pantai dekat rumahnya mendorongnya untuk bertindak. Lewat program daur ulang dan kegiatan bersih-bersih pantai, ia menitipkan pesan sederhana namun mengena: tangan-tangan kecil pun bisa membuat perubahan besar.

Dari Thailand, Wasuthida Rinkluean berhasil menonjol di antara hampir 200 peserta hingga terpilih sebagai finalis nasional. Di atas panggung, ia berbicara tentang polusi plastik di lautan—membuka pidatonya dengan kisah pilu seekor bayi penyu yang terjerat jaring ikan hantu. Pidatonya menegaskan betapa mendesaknya rasa tanggung jawab dan aksi bersama dalam menghadapi krisis lingkungan.

Di UEA, Khaseeba Omar Alremeithi bersaing dengan lebih dari 700 peserta sebelum akhirnya mendapatkan tempatnya di COP30. Dengan semangat inovasinya, ia mengusulkan pembangunan pulau surya apung yang terbuat dari material daur ulang—menghasilkan energi bersih sekaligus memulihkan ekosistem terumbu karang di bawahnya. Gagasannya mencerminkan perpaduan antara kreativitas dan tekad yang luar biasa.

Arab Saudi diwakili oleh dua pelajar inspiratif. Sheddi Alharthi, yang terdorong oleh kecintaannya pada satwa liar, berbagi kisah tentang keberhasilan pemulihan populasi oriks Arab dan mengaitkannya dengan tujuan konservasi dalam Saudi Green Initiative. Sementara itu, Abdulmohsen Alsherihi mengangkat krisis diam-diam yang tengah mengancam lautan kita, mengingatkan dunia bahwa polusi tidak mengenal batas negara dan perlindungan lingkungan harus dilakukan bersama-sama.

Dari Türkiye, Osman Batu Sivaslıgil meraih juara pertama dalam seleksi nasional yang ketat di Istanbul. Ia bercerita tentang kebakaran hutan dan perubahan lingkungan yang ia saksikan langsung, lalu menyerukan pembentukan Climate Labs di sekolah-sekolah serta “Climate Roofs” bertenaga surya. Pesannya tegas: kemajuan membutuhkan ketekunan, bukan kesempurnaan.

Di balik setiap pidato, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan—berjam-jam persiapan, sesi les privat yang intens, dan keberanian untuk berbicara melampaui batas-batas negara. Di COP30, para siswa ini tidak sekadar mempresentasikan ide. Mereka membangun persahabatan, saling berbagi budaya, dan menunjukkan kepada dunia bahwa generasi muda yang berdaya mampu mendorong perubahan yang bermakna.

Ketika suara anak muda diberi kesempatan untuk didengar, mereka tidak hanya berbicara—mereka menginspirasi.

Related Articles

Muhammad Rafardhan Atharizz Siswa Dari Indonesia ke Panggung Global: Athar Bawa Pesan untuk Bumi

Generasi muda Indonesia: menyuarakan keindahan alam dan kepedulian terhadap lingkungan di panggung dunia. Athar, siswa 51Talk Indonesia berusia 9 tahun, tampil di 51Talk Global Youth Summit (GYS) di Beijing dan menyampaikan pidato berjudul “My Hometown, Our Planet.” Dalam pidatonya, Athar mengajak audiens melihat Indonesia melalui kekayaan alam, kehidupan laut, hutan, serta satwa yang menjadi bagian dari lingkungan tempat ia tinggal. Athar menyoroti berbagai satwa khas Indonesia, termasuk orangutan dan harimau Sumatra, sebagai bagian dari kekayaan alam yang perlu dijaga. Ia juga membahas ancaman terhadap lingkungan, salah satunya sampah plastik yang dapat mencemari laut dan berdampak pada kehidupan di dalamnya. Melalui pidatonya, Athar menyampaikan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga tentang menjaga tempat yang menjadi rumah bagi manusia dan berbagai makhluk hidup. Dari isu yang dekat dengan kehidupan di Indonesia, ia membawa pesan tersebut ke hadapan anak muda dari berbagai negara di panggung GYS. Dengan menyampaikan gagasannya dalam bahasa Inggris, Athar menunjukkan bagaimana seorang anak muda dapat menggunakan kemampuannya untuk berbagi cerita tentang negaranya dan menyuarakan hal yang ia pedulikan kepada dunia. Dari Indonesia hingga panggung global, pesannya mengingatkan bahwa kepedulian terhadap bumi dapat dimulai dari tempat yang kita sebut rumah.

Bagaimana Perjalanan Belajar Bahasa Inggris Athar Membawanya ke Global Youth Summit di Beijing

Di usianya yang baru 9 tahun, Athar telah merasakan bagaimana belajar bahasa Inggris dapat membuka pintu menuju berbagai kesempatan baru. Sebagai siswa 51Talk dari Indonesia, Athar mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya melalui kelas online 1-on-1 secara rutin, sekaligus belajar menyampaikan ide dan pikirannya dengan lebih nyaman.

Rahasia Anak Lebih Percaya Diri Bicara Bahasa Inggris: Pengalaman Rigel Belajar Bersama Native Speaker di 51Talk

Memiliki anak yang aktif dan percaya diri dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris menjadi salah satu tujuan banyak orang tua saat ini. Namun, salah satu tantangan terbesar dalam mempelajari bahasa baru bukan sekadar menghafal kosakata, tetapi membantu anak merasa cukup percaya diri untuk berbicara, bahkan ketika mereka belum yakin apakah yang mereka ucapkan sudah benar.

Bagaimana 51Talk Bikin Gracie Pede Speaking English

Dulu Gracie malu-malu, tapi sekarang dia jadi lebih berani mencoba! Kalau ada yang tanya pakai Bahasa Inggris, dia tidak lagi sembunyi di belakang saya.

Visioner Muda dari UEA Tampil di Panggung COP30

Khaseeba mengubah kecintaannya pada membaca dan berbicara bahasa Inggris menjadi sebuah pencapaian luar biasa di panggung global. dari 700 peserta, ia melaju melalui babak pidato langsung dan kuis hingga akhirnya keluar sebagai pemenang.

Sheddi, Anak 12 Tahun dari Arab Saudi, Memperjuangkan Konservasi Satwa Liar

Sheddi berbicara tentang kecintaannya terhadap hewan dan menyoroti keberhasilan Arab Saudi dalam melestarikan oriks Arab—hewan yang pernah dinyatakan punah dan kini telah dipulihkan kembali melalui upaya-upaya berdedikasi yang diakui oleh UNESCO. Terinspirasi oleh pencapaian ini dan Inisiatif Hijau Arab Saudi, ia menyerukan kepada dunia untuk bersatu melindungi satwa liar dan menjaga bumi tetap hidup.

Abdulmohsen, Anak 9 Tahun dari Arab Saudi, Berbicara tentang Lautan di COP30

Abdulmohsen menyampaikan pesan yang mendesak tentang krisis diam-diam yang tengah dihadapi lautan kita akibat pemanasan global, polusi, dan penangkapan ikan berlebihan. Ia menyoroti lumba-lumba Vaquita yang terancam kritis sebagai sebuah peringatan nyata, dan menyebutkan upaya Arab Saudi dalam melindungi terumbu karang Laut Merah sebagai sumber harapan bagi dunia.

Le Bao Nhi, 11 Tahun dari Vietnam, Mengadvokasi Pembersihan Lautan di COP30

Le Bao Nhi yang berusia sebelas tahun, sebelumnya menghadapi kesulitan dalam pengucapan dan kepercayaan diri berbicara. Namun, setelah berlatih dengan tekun setiap hari bersama 51Talk—secara rutin mengikuti lima sesi tatap muka satu lawan satu setiap minggunya—ia telah mencapai kemajuan yang luar biasa dalam kemampuan bahasa Inggrisnya.

Perempuan Asal Thailand Berbicara di COP30, Mengadvokasi Perlindungan Lautan

Wasuthida Ringkleun yang berusia dua belas tahun, mulai belajar bersama 51Talk pada November 2024 dan berhasil tampil menonjol di antara hampir 200 peserta dari seluruh penjuru negeri. Terinspirasi oleh pengalamannya sebagai pembawa berita di sekolah dan dibimbing oleh semangat berkembang yang kuat

Osman, Usia 12 Tahun, Mewakili Türkiye di COP30 dan Berbicara tentang Iklim

Osman Batu yang berusia dua belas tahun, mulai belajar bahasa Inggris sejak usia dini dengan dukungan penuh dari keluarganya. Ia menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam kepercayaan diri dan kelancaran berbicara selama mempersiapkan diri untuk COP30

Dari ‘Terpaksa’ Jadi ‘Hobi’: Transformasi Belajar Bahasa Inggris Dengan Metode Bermain

Dari enggan, Egan kini antusias belajar. Bahasa Inggrisnya meningkat pesat berkat pelajaran daring interaktif dan bimbingan guru les privat.

Masih 1 SD, Tapi Pede Ngomong & Paham News in English

King membangun kemampuan bicara Inggris dan kepercayaan diri melalui kelas online fleksibel. Belajarnya seru, kemajuannya luar biasa!

Dari Cinta Menjadi Kebiasaan: Perjalanan Belajar Bahasa Inggris Derin, Gadis Turki 8 Tahun

Inggris bukan lagi sekadar mata pelajaran buat Derin. Kini jadi kebiasaan harian, ia menikmati kelas dan enjoy speaking english dengan guru-guru internasional.

Perjalanan Bahasa Inggris Defne, 9 Tahun: Dari Grogi Hingga Percaya Diri!

Mengatasi rasa takut, Defne kini percaya diri berbahasa Inggris. Belajar jadi bagian ceria harinya, berkat guru yang sabar dan menyenangkan.

Masa Depan yang Gemilang, Dimulai Hari Ini.

Related Articles

Scroll to Top